Mereka yang mendapatkan kepastian pertolongan dari Allah Ta’ala adalah mereka yang menikah dengan niat menjaga diri dari zina, budak yang sungguh-sungguh berkeinginan membebaskan diri, dan satu golongan yang melakukan amalan tertinggi dalam Islam. Siapakah mereka?
Mujahid di Jalan Allah
Pintu masuk dan dasarnya Islam adalah dua
kalimat syahadat. Tiang penyangganya adalah shalat fardhu lima waktu
dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah Ta’ala. Melalui jihad inilah
Islam dimenangkan, dihormati, dan berhasil menjadi agama terbesar di
seluruh penjuru bumi, bahkan pernah mengalahkan imperium sebesar Romawi
maupun Persia.
Jihad adalah bersungguh-sungguh.
Bentuknya tidak selalu mengangkat senjata, tetapi memang itulah yang
utama jika dibutuhkan. Maka, jihad bisa berupa dakwah dengan lisan,
tulisan, ataupun bidang lain yang dilakukan dengan kesungguhan dalam
menyebarkan agama Allah Ta’ala kepada seluruh umat manusia.
Maka dalam salah satu sabdanya, Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyebutkan mereka yang menuntut ilmu
senantiasa diganjari jihad di jalan Allah Ta’ala hingga dia pulang.
Begitupun dengan orang-orang yang mencari nafkah untuk mencukupi
kebutuhan anak-anak dan istri-istrinya agar tidak menjadi peminta-minta;
Allah Ta’ala berikan ganjaran mujahid baginya.
Karena jihad identik dengan perang fisik
dengan senjata, maka kaum muslimin harus mempersiapkan diri ketika hal
ini diwajibkan. Pasalnya, penjajahan terhadap kaum muslimin telah
terjadi di berbagai belahan bumi. Mulai dari Gaza Palestina, Suriah,
Moro, Pattani, Rohingnya, pun Mesir dengan rezim diktatornya.
Persiapan menghadapi jihad ini juga harus
dilakukan dengan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala secara intensif.
Sebab kekuatan fisik para mujahid di medan juang sangat dipengaruhi
kualitas kedekatannya kepada Allah Ta’ala Yang Mahakuat. Pun sebaliknya.
Maka kita dapati musuh-musuh Allah Ta’ala
itu, fisiknya besar dan kekar, tetapi tidak tahan lama sebab
ketergantungannya pada makanan dan hal duniawi lainnya. Sedangkan kaum
muslimin, sumber kekuatannya ada pada dzikir dan kekuatan ruhaninya.
Kabar gembiranya, dalam rangka persiapan
itu, penting bagi kaum muslimin untuk memulai berniat dan senantiasa
memperbarui niat. Sebab, dalam sebuah hadits disebutkan, Siapa yang berniat sungguh-sungguh untuk berjihad, ia akan digolongkan sebagai mujahid, meski mati di atas tempat tidur. [Pirman]

0 komentar:
Posting Komentar